Sabtu, 26 Januari 2013

Memahami Prinsip “Punishment and Reward” dalam Pendidikan


Catatan penting tentang prinsip yang benar di dalam memberikan sanksi dan hadiah kepada peserta didik oleh Jul Hasratman D. Musa

Tulisan ini hanya menyambung ‘lidah’ dari seorang guru saya yang bernama Prof. Sjarkawi, dosen senior di Program Pascasarjana Magister Pendidikan Universitas Jambi ketika saya mengikuti matrikulasi Program Magister Pendidikan dalam mata kuliah Prinsip-Prinsip Pembelajaran Sains. Judul tulisan bukanlah sebagai materi inti di dalam perkuliahan melainkan hanya materi bonus dalam diskusi antara dosen dan mahasiswa. Ini adalah bagaimana meluruskan pemahaman para pendidik (bahkan tidak hanya pendidik, para pemimpin umumnya memahami dan melakukannya secara salah).

“Punish and Reward” kalau dalam bahasa kita adalah hukuman dan penghargaan, saya menerjemahkannya secara bebas tanpa melihat kamus istilah, begitulah adanya. Mungkin saja ada pendapat yang berbeda, punish and reward diartikan sebagai sanksi dan hadiah. Ya, terserah, yang penting makna besarnya adalah memberikan sesuatu yang ‘negatif’ dan memberikan sesuatu yang ‘positif’. Negatif dalam arti sangat tidak disenangi oleh penerima, positif dalam arti sangat disenangi oleh penerima.

Dalam dunia pendidikan kita sering melihat para pendidik yang salah dalam mengaplikasikan konsep sanksi dan hadiah. Banyak yang salah kaprah di dalam memberikan sanksi dan hadiah kepada para peserta didiknya. Tujuan utama dari konsep pemberian sanksi dan hadiah adalah untuk memberi semangat dan motivasi, mencambuk dan mengoptimalkan dorongan berprestasi. Kalau niatnya begitu, sah-sah saja menerapkan konsep hukuman dan penghargaan. Akan tetapi perlu diingat, kita harus berprinsip benar dan lurus di dalam menerapkannya apalagi ini soal pendidikan. Jika salah-salah menerapkan konsep tersebut maka bukan hasil yang lebih baik yang didapatkan, justru malah kebalikanya. Waspadalah! Itu kata bang napi, hehe.

Secara bahasa, arti kata prinsip adalah suatu landasan yang dianut untuk berpikir dan bertindak. Bila prinsip benar maka hasil pemikirannya akan benar, demikian juga dengan tindakannya berpotensi menjadi benar. Sebagian besar kesalahan-kesalahan yang terjadi adalah karena salah di dalam berprinsip. Meski banyak orang yang mengatakan itu kesalahan teknis. Baca tulisan saya tentang “kesalahan teknis dan kesalahan prinsip” di dalam blog ini.

Saya mulai pembahasan ini dengan memberikan beberapa contoh di dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya di dalam proses pembelajaran. Suatu hari seorang guru mengumumkan di hadapan siswa di kelas yang dipimpinnya bahwa pada pertemuan pekan depan akan ada Ulangan Harian (UH). Setiap siswa harus belajar untuk mempersiapkan diri agar nilai ulangan harian tidak rendah. Bagi siswa yang nilainya di bawah 50 akan mendapatkan sanksi yakni membersihkan toilet sekolah, sedangkan siswa yang nilainya di atas 80 atau sama dengan 80 akan memperoleh buku tulis bermerek Big-Boss. Wah, sepertinya sang guru sedang merencanakan sebuah konsep “punish and reward” di dalam pembelajarannya. Ngeri! Hingga tibalah saatnya UH diadakan, ternyata ada siswa yang bernilai di bawah 50 dan ada beberapa siswa yang nilainya di atas 80.

Bagi yang berpikir seirama dengan sang guru di dalam kisah tersebut, ia akan sepakat bahwa tujuan adanya sanksi adalah untuk memacu siswa dalam berprestasi. Mereka yang malas-malasan belajar akan menanggung resiko pribadi, membersihkan toilet. Tentu saja itu hal yang menjijikkan. Agar tidak bernasib malang maka pemalas akan berubah menjadi rajin. Begitu pula dengan siswa rajin, sang guru berharap dengan adanya buku sebagai hadiah untuknya akan terus mempertahankan prestasi belajarnya dan meningkatkannya lagi. Secara sekilas argumentasi para pendidik ini mungkin saja ada kebenaran. Di dalam kebenaran yang mereka pahami ternyata saya menangkap suatu kesalahan. Ya, inilah yang akan saya bahas di dalam tulisan ini. Kesalahan dalam memaknai prinsip sanksi dan hadiah bagi siswa peserta ulangan harian. Mengapa salah prinsip? Salah karena guru tersebut memiliki dasar berpikir dan dasar bertindak untuk melakukan hukuman (memberikan sanksi) dan memberikan hadiah.

Proses yang dilakukan mungkin saja disebut benar, sanksi berupa membersihkan toilet adalah hal yang wajar. Namanya juga sanksi, tentu harus berupa hal-hal yang tidak disenangi untuk mengerjakannya. Membersihkan toilet juga mengandung nilai pendidikan kesehatan, boleh jadi sebagai sarana bagi siswa untuk berlatih hidup sehat dan aktif menjaga kebersihan toilet. Sama halnya dengan proses memberikan hadiah, itu juga benar, saya katakan itu prosesnya benar. Siapa yang tidak senang diberikan hadiah? Tentu, siapapun mau menerimanya apalagi karena dalih prestasi diri. Motivasi di dalam diri peserta didik akan semakin kuat dengan adanya iming-iming hadiah. Lalu dimana kesalahannya? Ikuti paragraf berikutnya.

Kesalahan yang terjadi bukan pada prosesnya, meski memberlakukan proses itulah yang salah. Kesalahan utama terletak pada prinsipnya. Prinsip memberikan sanksi dan memberikan hadiah harus sejalan dengan prinsip pendidikan secara umu yakni harus manusiawi, tidak menganiaya peserta didik. Nah lho? Penganiayaan yang saya maksud adalah adanya ketidak adilan yang dilakukan oleh guru kepada siswanya. Guru yang memberlakukan konsep sanksi dan hadiah di dalam proses pembelajaran harus jeli dan cerdas agar ketidak adilan tidak terjadi.

Dari kisah di atas, sangat jelas bahwa ketidak adilan telah terjadi di dalam proses pembelajaran. Saya menyebutnya sebagai “Guru Zhalim”. Siswa bernilai rendah adalah pihak teraniaya. Mengapa? Ia diberikan sanksi berlipat ganda oleh gurunya lantaran nilai ulangan hariannya rendah. Lho kok berlipat ganda? Iya, sanksi pertama adalah membersihkan toilet sekolah (tentu dengan terpaksa) dan sanksi kedua adalah tidak mendapatkan hadiah. Keadaan “tidak mendapatkan hadiah” adalah salah satu bentuk keadaan negatif dialami peserta didik, yang juga harus dipahami oleh pendidik sebagai suatu sanksi. Bila siswa secara berlipat ganda mendapatkan sanksi maka saya tidak yakin tujuan pemberlakuan sanksi dapat tercapai. Siswa akan semakin malas dan tidak sedikitpun ada pikiran untuk berubah. Sanksi yang berlipat ganda itu sudah merasuki kehidupannya sehingga ia cenderung larut di dalam deritanya (nilai rendahnya). Tidak akan ada perubahan signifikan terjadi.

Bagaimana agar konsep sanksi dan hadiah itu benar? Pastikan dahulu bahwa prinsipnya benar atau tidak ada kesalahan seperti ketidak adilan. Sanksi dan hukuman adalah pilihan. Yang saya maksud sebagai pilihan adalah keduanya berupa opsi, pilih sanksi atau pilih hukuman. Dengan kata lain, pendidik yang memahami prinsip sanksi dan hadiah secara benar adalah mereka yang menempatkan sanksi dan hadiah sebagai opsi yang dipilih dari antara keduanya. Pendidik dapat memilih sanksi saja atau hadiah saja. Tidak secara sepaket diberlakukan. Jika seperti itu malah kezhaliman yang terjadi. Pendidik harus sadar bahwa di dalam memberlakukan konsep sanksi akan terkandung konsep hadiah di dalamnya. Sebaliknya memberlakukan konsep hadiah akan mengandung konsep sanksi di dalamnya.

Mari kembali ke kisah guru dan siswa di atas. Sebaiknya guru memilih dua opsi saja, opsi sanksi atau opsi hadiah. Guru memilihkan “toilet” atau “buku Big Boss”, bukan dua-duanya. Opsi yang pertama adalah bagi siswa bernilai rendah akan membersihkan toilet dan bagi siswa bernilai tinggi tidak membersihkan toilet, itu cukup, prinsip benar!  Opsi yang kedua adalah bagi siswa yang bernilai tinggi akan mendapatkan buku Big Boss dan bagi siswa bernilai rendah tidak mendapatkan buku Big Boss, itu cukup, prinsip benar! Jangan dipadukan antara kedua opsinya. Bila keduaya diberlakukan secara sekaligus di dalam satu keadaan maka itu tadi yang saya sebut sebagai “Guru Zhalim” yang salah berprinsip. Guru tersebut tidak adil, ia menganiaya segolongan siswa bernilai rendah dengan sanksi berlipat ganda, sudah tidak dapat hadiah malah dipaksa lagi membersihkan toilet. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Jelas, ini bukan prinsip yang benar di dalam mengaplikasikan “Punish and Reward”.

Prinsip pendidikan modern harus manusiawi, tidak ada tindak “penganiayaan” di dalamnya, ini sesuai dengan prinsip-prinsip hak azasi manusia. Pendidik yang cerdas harus menyadari bahwa cara-cara seperti yang dikisahkan di atas bersumber dari prinsip yang salah. Bila para pendidik secara terus menerus melakukan kesalahan prinsip yang serupa, saya yakin perbaikan dunia pendidikan kita akan berjalan di tempat.

Melalui tulisan ini ada harapan agar ke depannya ada perbaikan, khususnya bagi para pendidik yang selama ini salah prinsip dalam penerapan konsep sanksi dan hadiah di dalam proses pembelajaran. Konsep sanksi dan hadiah mungkin termasuk konsep yang paling mudah dan banyak digunakan oleh para pendidik. Padahal masih ada banyak konsep lain yang dapat dilakukan untuk melahirkan semangat dan motivasi dalam upaya memacu prestasi belajar peserta didik.

Tidak ada komentar: