Rabu, 30 Januari 2013

Lomba Karya Tulis Ilmiah Kesehatan Antar Pelajar SMA Tingkat Provinsi

Mengulang kisah pribadi, tidak bermaksud pamer melainkan sebagai motivasi dan pelajaran bagi siapapun (bagi yang mau mengambilnya sebagai pelajaran.

Saya pernah memiliki pengalaman menjadi peserta lomba karya tulis ilmiah kesehatan antar pelajar SMA tingkat provinsi, alhamdulillah setelah seleksi administrasi dari belasan atau puluhan (atau mungkin juga ratusan, saya tidak tahu pasti) akhirnya saya berhasil masuk babak final. Peserta yang masuk babak final hanya berjumlah 6 orang, akan berlaga di hadapan juri dengan mempresentasikan karya tulisnya, diakhiri dengan tanya jawab dengan dewan juri. Bayangkan, seorang pelajar dari SMA ‘kampung’ dengan bahasa Indonesia ala kadarnya berhasil menjadi juara pertama, itulah saya. Mungkin inilah satu-satunya prestasi terbesar yang membuat orang-orang terdekat sangat bahagia karena prestasi saya kala itu. Segala puji hanya bagi Allah.

Judul karya tulis yang saya buat adalah: MENANGGULANGI POLUSI UDARA DEMI KESEHATAN LINGKUNGAN. Setelah hari ini saya baca ulang, waduh karya tulis yang saya buat itu sungguh jelek, penilaian saya. Syukurlah saya bukan jurinya, bisa-bisa kalau saya yang jadi jurinya akan saya masukkan ke dalam tong (…isilah titik-titik ini…).

Seingat saya tema karya tulis yang ditawarkan oleh panitia lomba ada tiga yakni tema tentang narkoba, polusi, dan satu lagi saya lupa. Saya tertarik dengan tema polusi sehingga memutuskan bahwa karya tulis yang saya ikutkan untuk lomba adalah karya tulis ilmiah tentang polusi udara untuk kesehatan lingkungan.

Singkat cerita, pada kesempatan ini saya akan membagikan kepada para pembaca yang budiman beberapa alasan yang bersifat teknis prosedural mengapa saya berhasil menjadi juara pertama. Alasan utama adalah karena Allah menghendakinya. Akan tetapi alasan teknis yang akan saya uraikan ini dapat dianggap sebagai cara atau trik atau tips menjadi pemenang lomba karya tulis ilmiah di bidang kesehatan, khususnya kesehatan lingkungan.

1. Saya dibimbing oleh dua orang guru yang luar biasa: seorang guru bahasa Indonesia yang cerdas yang (alumnus Universitas Islam Sumatera Utara) dan guru Kimia yang berprestasi, lulusan Universitas Negeri Medan (dahulu IKIP Medan), malah saat ini sudah bergelar S2 Ilmu Lingkungan dari Universitas Negeri Padang. Pada titik inilah membuat saya juga mencintai dunia “Kimia Lingkungan” dan “Biokimia”.

2. Saya rajin berkunjung ke perpustakaan dan membaca buku-buku yang jarang diminati oleh siswa lain, misalnya buku tentang Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan karangan Otto Soemarwoto, buku biografi presiden AS, beberapa buku tentang penemuan luar biasa dari ilmuwan zaman dahulu, dan lain-lain. Sewaktu SMP, saya pernah diberi penghargaan oleh pihak sekolah karena menurut catatan sekolah, saya adalah siswa paling sering berkunjung dan membaca di perpustakaan.

3. Saya berpedoman pada sebuah buku penuntun pembuatan karya ilmiah remaja beserta beberapa contoh karya ilmiah remaja di dalamnya. Inilah yang menjadi kekuatan saya dalam mengelola skematika penulisan karya tulis ilmiah kesehatan. Buku ini saya pinjam dari perpustakaan sekolah dalam waktu yang cukup lama, setiap minggu selalu saya pinjam ulang, karena aturan di sekolah batas peminjaman hanya 7 hari (iya, hanya 7 hari kalau saya tidak lupa).

4. Pada saat presentasi saya mengundang belas kasihan dewan juri dengan sedikit merendah, mengatakan bahwa saya adalah siswa kampung, sungguh beruntung bisa berdiri di sini di hadapan para pakar ilmu kesehatan dan pakar ilmu lingkungan. Memang, hawa kampungan itu terlihat jelas misalnya dengan cara saya berbahasa Indonesia yang sederhana (cukup gramatikal), dan juga media presentasi karya tulis ilmiah saya yakni hanya ditulis tangan di atas kertas plastik bening menggunakan spidol permanen, ditampilkan dengan OHP (Over Head Projector). Beda dengan rekan lain yang diketik menggunakan komputer.

5. Beruntungnya, saya tidak mendapat giliran yang pertama menyampaikan presentasi sehingga saya punya waktu untuk belajar presentasi dari kompetitor finalis lomba yang tampil sebelum giliran saya. Cara bicara, cara berdiri, cara melihat dewan juri dan audien, cara menjelaskan, cara menjawab pertanyaan, dan sebagainya.

6. Pada saat presentasi, saya ‘menyinggung’ (baca: merendahkan tema karya tulis dari peserta lain) tema lain dengan menekankan bahwa tema yang saya angkat jauh lebih baik dari dua tema lain, dalam arti bahwa apa yang saya tulis jauh lebih penting dan signifikan. Kalau tema “narkoba”, saya yakin orang yang terjaga di dalam keluarga, orangnya alim, orangnya baik-baik maka peluang terjerumus menggunakan narkoba amat kecil, sedangkan kalau tema “polusi udara”, siapapun ia baik ustadz, kiai, pendeta, biksu sekalipun akan tercemar apabila kondisi udara di sekitar kita telah tercemar (polusi). Jadi, pada saat presentasi saya juga bertindak sebagai marketer. Mempromosikan bahwa barang saya jauh lebih bermutu dari yang lain.

7. Saya rajin shalat dan berdoa. Harapan hanya digantungkan pada Allah. Sebagai siswa yang merasa bukan siapa-siapa, tidak layak menjadi juara, dan kemudian bertawakal. Tapi ini bukan berarti bahwa saya tidak berjuang maksimal ketika itu. Kebersihan hati adalah kekuatan, percayalah! Sehingga kesimpulannya adalah apa yang saya raih sebagai prestasi (juara I) bukanlah karena kemampuan atau kehebatan saya. Itu adalah anugerah dari Allah. Itu keajaiban dari Allah, saya pun kaget dan tidak menyangka pada saat juri mengumumkan bahwa saya adalah juara I.

Demikianlah kisah saya menjadi juara I penulisan karya tulis ilmiah kesehatan tingkat provinsi. Semoga bermanfaat dan menjadi masukan berharga bagi para pembaca blog.

Tidak ada komentar: