Senin, 26 Maret 2012

Pengalaman Belajar Berbasis TIK


Menurut beberapa hasil penelitian yang dikemukakan oleh para ahli tentang dampak penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di dalam dunia pendidikan, dapat dibedakan atas 3 (tiga) kategori: (1) kategori positif, mereka yang memberikan kesimpulan bahwa penerapan TIK memiliki dampak positif bagi dunia pendidikan, secara khusus terhadap kegiatan pengajaran dan pembelajaran; (2) kategori negatif, mereka yang berlawanan dengan kategori pertama; dan (3) kategori netral, mereka yang telah melakukan penelitian akan tetapi masih belum memiliki keyakinan kuat ke arah mana mereka berpihak, apakah kategori pertama atau kategori kedua.

Bagi saya secara pribadi yang mengalaminya langsung akan berpihak pada kategori pendapat pertama. Baik pada posisi sebagai seorang pengajar, instruktur, atau trainer maupun pada posisi sebagai pembelajar atau peserta didik, saya merasakan suatu dampak positif dari hadirnya TIK di dalam proses pembelajaran. Hasil yang didapatkan dapat berpuluh-puluh kali lipat dari pada model pembelajaran tradisional yang nihil keterlibatan TIK.

Pengalaman pribadi saya tentang penggunaan hotspot di ruang kelas, yakni berupa pemanfaatan teknologi wireless fidelity (WIFI) yang dipasang di ruang kelas sehingga memungkinkan setiap komputer atau laptop peserta belajar (mahasiswa) dapat mengakses internet di sela-sela proses pembelajaran (perkuliahan) sedang berlangsung. Dengan fasilitas tersebut, siapapun diperbolehkan mengakses internet secara bebas. Bebas dalam arti bahwa tidak ada larangan dari pengajar untuk membatasi aktivitas peserta belajarnya untuk menggunakan laptop meskipun mereka dituntut harus mendengarkan ceramah dosen pada saat yang sama.

Dampak positif penggunaan teknologi WIFI di ruang kelas, setidaknya menurut pengamatan dan pengalaman pribadi bersama rekan-rekan mahasiswa adalah daya tahan belajar semakin tinggi, prinsip keterbukaan ilmiah, kedalaman analisis, komunikasi online interpersonal, dan beragam kemudahan lain.

Terkadang pengajar tertentu tidak memperhatikan kekuatan dan ketahanan berpikir peserta belajarnya, dengan kata lain meskipun kinerja otak peserta belajar sudah mulai menurun (lemah) namun tetap saja pengajar menyuguhi materi-materi secara bertubi diiringi dengan ajakan untuk berpikir keras dan berpikir dalam. Biasanya ketika peserta belajar menghadapi hal ‘gila’ ini, mereka akan langsung tidak fokus, bahkan mengabaikan materi. Alhasil, materi ajar masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Dengan adanya laptop yang terhubung ke internet via teknologi WIFI, ‘kebosanan’ ini dapat terhindar. Selama beberapa menit mungkin saja peserta belajar mengalihkan pandangannya ke sesuatu yang lebih menarik di layar laptopnya. Setelah daya belajarnya kembali pulih maka ia akan kembali fokus dengan pembahasan dari sang pengajar.

Materi-materi ajar yang disampaikan di dalam kelas semakin terbuka, tidak ada satupun ilmu yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Internet telah memfasilitasinya dengan lengkap secara ‘real time’. Bila ada hal-hal yang tidak diketahui atau ada materi yang agak sulit dipahami dengan satu bahasa komunikasi tertentu, dengan capet peserta belajar akan langsung mencari bahasa komunikasi lain dengan mengandalkan internet pada saat itu. Sehingga semua lebih mudah mengerti, semua cepat dan semakin mudah memahami.

Perkuliahan yang berkualitas dapat diperoleh dengan adanya diskusi dan distribusi informasi ilmiah secara merata. Informasi ilmiah tersebut harus secara dalam dan disampaikan dengan analisis yang tajam. Penggunaan internet sebagai sumber bahan belajar akan mampu menjawab tantangan tersebut. Bahkan ketika memasuki sesi pertanyaan, beberapa mahasiswa melontarkan pertanyaan yang diperolehnya secara online dari internet. Setelah melihat topik tertentu di internet, biasanya akan bertanya dalam bentuk studi kasus sebagaimana yang ia dapati di internet. Muatan diskusi lebih sarat dengan ketajaman analisis ketimbang hanya mengandalkan pertanyaan yang dirancangnya sendiri.

Prinsip penggunaan hotspot di ruang kelas yakni peserta belajar dan pengajar berada di dua dunia sekaligus pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung. Dua dunia yang dimaksud adalah dunia nyata dan dunia maya. Komunikasi dua dunia ini dapat dilakukan untuk keperluan-keperluan yang penting dan mendesak. Sebagai contoh, umumnya para peserta telah memiliki akun di jejaring sosial tertentu, jika ada hal-hal yang didiskusikan secara insidentil dan tanpa perlu melibatkan perhatian kolektif, mereka boleh saja menggunakan komunikasi alternatif melalui fasilitas ‘chatting’ dan sebagainya. Komunikasi positif secara online ini akan semakin membuka peluang-peluang untuk mendiskusikan pengalaman belajarnya pada saat itu juga tanpa membuat keributan dan mengganggu aktivitas semua peserta.

Selain yang disebutkan di atas, sebenarnya banyak hal-hal lain yang seharusnya perlu diuraikan lagi di dalam tulisan ini sebagai dampak positif dari penggunaan TIK pada proses pembelajaran. Intinya, kampus saya sudah melakukannya lebih dahulu dan alhamdulillah saya merasakan sesuatu yang luar biasa. Luar biasa!!!

*Catatan kesaksian mahasiswa yang tengah mengikuti perkuliahan berbasis hotspot, Prodi Magister Pendidikan IPA, Pascasarjana Universitas Jambi.

Tidak ada komentar: