Diskusi yang tak pernah berakhir. Eksistensi atau keberadaan. Kajian tentang ada. Manusia ada karena ada sebab. Keberadaannya disebabkan oleh adanya penyebab ada. Ah, saya menjadi stres membaca kalimat-kalimat sejenis itu. Entah inikah yang dinamakan filsafat? Hmmm, ternyata saya sedang mempelajarinya di perkuliahan hari ini. Kemudian ada lagi kajian tentang keterbatasan, orang di sini menyebutnya finitisme. Apa itu? Ini hanya soal keterbatasan tentang apa yang telah ada. Sekalipun sesuatu telah ada, eksistensinya telah wujud, tetap saja ada keterbatasan. Mengapa? Tentang ini saya masih belum menemukan jawabannyanya hingga ujung kalimat ini.
Sebagai insan sains, wah benarkah begitu saya insan sains? Saya kurang yakin. Terlepas dari semua itu, baru saja saya mendengar bahwa sains memiliki keterbatasan. Sains hanya memperkenalkan dimensi tertentu, tidak integral, entah boleh disebut bahwa ia tidak holistik. Inilah sebabnya ia terbatas. Meskipun ia berevolusi, berkembang setiap saat, tetap saja terbatas karena pemikiran manusia juga terus berkembang. Keinginan dan aneka imajinasi terus berjalan melampaui kemampuan sains dalam menjawab keadaan yang diimajinasikan. Hal yang perlu diketahui, sekalipun pemikiran manusia terus berkembang tetap saja terbatas juga. Jadi yang dipertanyakan kembali: Sainsnya yang terbatas atau manusianya yang terbatas???
Nah, keduanya terbatas! Sebab sains itu ada karena manusia ada, lalu manusia mengadakannya. Cara memandang sains harus seperti bagaimana manusia memandangnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa kajian-kajian filsafat memang berada dalam tataran kemanusiaan. Keterbatasan manusia dalam menggunakan atau katakanlah mengoptimalisasikan inderanya, inilah penyebab utama. Hingga kalimat yang terakhir tadi, saya masih parsial menyimpulkannya.
Selama manusia hidup di dunia, kita harus sadar bahwa keterbatasan demi keterbatasan akan menghinggapi setiap sisi kehidupannya. Ketika telah tiba di negeri akhirat, saya yakin, kita akan menyadari lebih sempurna tentang keterbatasan dunia dan memahami secara dekat tentang ketidak-terbatasan negeri akhirat.
Pesan penting, marilah lebih arif dalam bersahabat dengan keterbatasan!
Tulisan di sela-sela perkuliahan FILSAFAT SAINS bersama Dr. Hary S. Harjono (Dosen Filsafat Sains Pascasarjana Universitas Jambi), Samsul Azwar, S.Pd., Patmi, S.Pt., Indriya Yekti, S.Pd., Nuranita, SP., Rusdianto, S.Pd., Sutikno, S.Pd.
0 comments:
Poskan Komentar