Kamis, Desember 29, 2011

Masih Tentang Polusi Industri Pulp

Polusi yang diakibatkan oleh industri pulp adalah masalah serius yang harus mendapatka perhatian lebih dari berbagai kalangan. Pabrik pulp dan kertas mampu memberikan dampak yang luar biasa bagi air, udara, dan tanah di sekitarnya. Dari data yang dikumpulkan oleh banyak peneliti bahwa polusi dari industri pulp merupakan salah satu industri yang sangat memberikan pengaruh terhadap pencemaran di dunia, dengan maksud bahwa industri ini sangat berbahaya bila pengelolaan lingkungannya dilakukan seadanya. Di Amerika Utara, industri ini masuk dalam jajaran tiga besar industri paling mencemari lingkungan.
 
Hingga saat ini, saya tidak menemukan data yang akurat tentang tingkap pencemaran yag diakibatkan oleh industri pulp dan kertas di Indonesia. Meskipun demikian, pelajaran dari Amerika cukup membuat kita waspada dan harus lebih perhatian terhadap industri yang satu ini.

Poin penting yang menjadi sumber polusi industri ini adalah penggunaan klorin dalam jumlah tertentu dalam proses pemutihan pulp atau dikenal dengan istilah ‘bleaching’. Realita yang terjadi dilapangan, kita membutuhkan kertas di dalam kehidupan di samping juga kita perlu mengembangkan sistem bisnis yang berkelanjutan (sustainable) untuk menjaga kualitas lingkungan. Pemahaman ini harus dipahami secara terpadu oleh pemerintah dan pelaku bisnis.

Dampak terburuk dari industri pulp dan kertas adalah menurunnya kualitas lingkungan sekitar dan pengaruh yang luar biasa bagi para pekerja atau masyarakat yang berada di sekitar pabriknya. Untuk mengatasi ini, perusahaan dengan sistem manajemen terbaik diberlakukan untuk menanggulanginya.

Seharusnya penanggulangan tidak saja dilakukan secara sepihak yang 100 % ditangani oleh perusahaan karena merupakan ‘ulah’nya. Keikutsertaan dan keterlibatan penuh dari pemerintah setempat juga perlu dikarenakan ini penting untuk menegaskan tanggung jawab pemerintah terhadap rakyatnya sekaligus untuk membangun iklim bisnis yang berkemajuan mengingat industri pulp dan kertas menyumbang dengan signifikan terhadap peningkatan perekonomian rakyat. Dari aktivitas industri mampu mempekerjakan manusia sehingga mereka terbebas dari pengangguran yang menjadi beban pemerintah.

Diperlukan kerja sama dan saling memudahkan dalam mendorong kemajuan industri pulp dan kertas di Indonesia. Prinsip saling menguntungkan adalah salah satu hal yang diperlukan dalam sistem ini. Jika tidak maka hal ini akan memberikan dampak negatif dan penurunan kualitas kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Ditulis oleh Jul – Karyawan PT. Lontar Papyrus Jambi
(Sinar Mas Pulp and Paper Products)

Selasa, Desember 27, 2011

POLA BISNIS INDUSTRI PULP & KERTAS YANG BERKELANJUTAN

Industri pulp (bubur kertas) dan kertas nasional adalah industri strategis yang hingga hari ini mampu memunculkan investasi sampai US$ 16 miliar dan memberikan andil terhadap devisa sekitar US$ 4 miliar per tahun. Dukungan dari pihak pemerintah RI sangat signifikan hingga hari ini. Peraturan-peraturan yang berkeadilan yang dikeluarkan oleh pemerintah menjadi sumber kemajua dan kemampuan bisnis ini untuk memiliki daya saing. Hingga saat ini, Indonesia masuk dalam jajaran 10 besar industri pulp dan kertas dunia.

Pola bisnis yang berkelanjutan merupakan salah satu strategi modern dalam menghadapi persaingan antara industri pulp dan kertas dunia. Sebagai contoh tempat saya bekerja, Asia Pulp & Paper sudah mulai mengembangkan program “Sustainability”, yakni pola bisnis berkelanjutan. Program ini menekakan pentingnya keseimbangan antara aspek pembangunan sosial dan pencapaian ekonomi dengan nilai konservasi keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekologi. APP sadar bahwa tanpa program ini, cita-citanya untuk menjadi industri pulp dan kertas nomor 1 di dunia akan menjadi angan-angan belaka.

Di tengah banyaknya sorotan negatif yang ditujukan ke perusahaan milik sinar mas tersebut, APP tetap berdiri kokoh dan selalu memberikan respon-respon positif. Beberapa tuduhan tentang pengrusakan hutan konservasi berupa terancamnya hewan-hewan terlindungi dan sorotan tentang konflik horizontal terus menerus ditujukan ke perusahaan ini. Bukti-bukti yang dikaitkan dengan fakta tidak kuat, bahkan cenderung sebagai pelampiasan emosi LSM lingkungan tertentu untuk mencekal bisnis APP. Banyak sudah pembuktian yag tak berdasar dilakukan, informasi yang tidak akurat sengaja dipublikasikan untuk menyudutkan APP.

Untuk mencapai pola bisnis berkelanjutan di atas, APP memiliki komitmen yang tinggi terhadap beberapa hal antara lain : Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pemerintah baik nasional maupun lokal (daerah), adanya kebijakan APP untuk tidak memberikan toleransi terhadap kayu ilegal berkaitan dengan standar lingkungan, prinsip konservasi, dan dampak sosial, secara aktif berkelanjutan dalam mendukung sertifikasi dengan mengundang beberapa lembaga independen internasional untuk melaksanakan audit secara obyektif. Sertifikasi TLO, PEFC, LEI dan sebagainya merupakan pekerjaan berkesinambungan untuk membuktikan bahwa APP diakui dalam hal menjaga keseimbangan keanekaragaman hayati dan ekologi. Kayu-kayu yang merupakan bahan baku industrinya berasal dari sumber-sumber terakui, bukan kayu-kayu yang tidak jelas sumber dan berasal dari kegiatan perngrusakan hutan. “Chain of Custody”, rantai lacak balak dalam industri telah diterapkan sedemikian rupa. Secara berkala dievaluasi oleh lembaga-lembaga sertifikasi internasional semacam SGS dan TUV. Bahkan beberapa ‘customer’ APP semisal Carrefour juga mengundang lembaga audit pihak ketiga untuk ikut mengunjungi seluruh pabrik-pabrik APP yang tersebar di berbagai lokasi. APP Jambi Mill (tempat saya bekerja) juga dinyatakan “NO FINDING”, tanpa temuan audit.

Selain itu, APP berkomitmen tinggi dalam meminimalisasi polusi yang memberikan dampak lingkungan dan juga dalam pemanfaatan sumber daya terbarukan dan melakukan daur ulang, juga dalam hal pengolahan limbah cair secara mantap untuk menjaga kualitas lingkungan, serta aktif dalam mengedukasi karyawan terkait bisnis APP.

Dengan berbagai program itu, APP amat layak menjadi industri pulp dan kertas dunia masa depan yang berkelanjutan. Kesejahteraan rakyat juga akan meningkat berupa semakin luasnya lapangan kerja.

Sabtu, Desember 24, 2011

TIM LUAR BIASA


Tidak terasa waktu yang begitu cepat berlalu, tahun yang sebentar lagi berganti mengingatkan saya akan hal ini bahwa saya telah memasuki tahun ketiga mencari makan di hutan akasia Tebing Tinggi Kab. Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. Bulan Mei tahun 2009 adalah waktu pertama kali saya melangkahkan kaki ke PT. LPPPI, sebuah perusahaan besar yang bernaung di bawah APP – Sinar Mas (Asia Pulp & Paper). Saya datang memenuhi bidang personalia bersama sejuta kebingungan, mengapa saya harus ditakdirkan berada di tengah hutan. Jauh dari kota. Jika ingin ke kota, setidaknya butuh waktu sekitar tiga jam di atas kendaraan yakni bus yang disediakan oleh perusahaan.

Dua tahun pertama, Mei 2009 hingga Juli 2011 saya ditempatkan di bidang Pulp Quality. Bidang kerja yang sangat erat hubungannya dengan latar belakang pendidikan saya yaitu S1 Kimia FMIPA. Di sini saya bekerja di laboratorium dengan sistem shift (kadang jadwal pagi, kadang sore atau malam). Masa-masa terberat yang saya arungi dalam perjuangan meneruskan hdiup. Fokus utama kerja adalah melakukan analisis kimia dan fisika secara rutin untuk mengendalikan kualitas produk akhir dan proses kimia industrinya. Produk utama adalah pulp (bubur kertas) yang merupakan bahan hampir jadi kertas. Selain produk berupa pulp, saya juga memeriksa tentang bahan-bahan kimia seperti NaOH, HCl, dan beberapa campuran pemasak kayu (White Liquor).

Bulan Juli 2011, saya ditawari oleh Pak Yusharlin S.Si, koordinator tim ISO di perusahaan untuk bergabung ke dalam tim beliau. Proses mutasi dimuluskan oleh beliau dari Seksi Pulp Quality ke ISO TEAM. Tim ISO adalah nama tim yang bekerja untuk mengendalikan dan memantau seluruh dokumen di perusahaan, pekerjaannya sangat berhubungan erat dengan sistem sertifikasi kualitas dan sertifikasi lingkungan. Di sini saya juga belajar sedikit banyaknya tentang QMS (Quality Management System) atau sistem manajemen mutu perusahaan, juga tentang EMS (Environmental Management System) atau sistem manajemen lingkungan.  Beberapa sistem sertifikasi lain juga dipelajari (meski belum maksimal) antara lain : Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), Sistem Sertifikasi LEI, PEFC, HAS, dll.

Sebenarnya saya sudah lama sekali ingin bercerita tentang aktivitas baru yang saya tekuni di perusahaan ini. Aktivitas yang menyita lelah tapi pada kenyataannnya begitu saya nikmati. Bukan basa-basi, aktivitas di tim baru tempat saya bergabung bekerja adalah aktivitas penuh pembelajaran. Hampir setiap hari ada masalah baru yang menuntut kita untuk berpikir tentang pemecahan masalah tersebut.

Hal yang paling menarik dan paling membuat betak bergabung ke dalam tim ISO ini adalah asyiknya berteman dan bekerja bersama dengan orang-orang di dalam teman ini. Pak Yusharlin, S.Si (Koordinator Tim), sarjana Sains kimia lulusa Universitas Andalas, beliaulah yang membuat saya memiliki ilmu tentang ISO. Umurnya yang sudah kepala empat ternyata masih mampu mengimbangi atau mungkin mengalahkan semangat mudah umur dua puluhan atau tiga puluhan. Banyak orang yang tak percaya jika beliau sudah berumur 42 tahun .

Ms. Tsai Ming Mei (Pimpinan QRD LPPPI). Seorang Ibu yang telah lama tinggal di Kanada, beliau membimbing kami dengan ketegasan seorang pemimpin dan kebijaksanaan seorang Ibu.  QRD Division adalah salah satu divisi di dalam perusahaan kami yang kepanjangannya amat panjang (namanya juga kepanjangan), Quality Assurance and Research and Development Division. Ms. Tsai, begitulah kami menyapanya, seorang Ibu berusia mendekati 60 tahun namun dengan penuh semangat memimpin sebuah divisi strategis di dalam perusahaan. Jangan harap Anda bisa memahaminya dengan sempurna bila tidak memahami bahasa Inggris. Sehari-harinya di tempat kerja, beliau memakai bahasa Inggris bercampur Indonesia sedikit-sedikit. Dalam kepemimpinan beliau, saya melihat QRD meraih banyak prestasi. Banyak pencapaian divisi yang telah nyata, salah satunya “Zero Customer Claim” yang merupakan salah satu proyek besar QRD.

Pak Isra Maizal, ST., Sarjana Teknik Kimia Universitas Sriwijaya yang asyik. Canda bernada serius darinya, itu yang menjadi ciri khas beliau. Kemampuan manajerial juga tidak diragukan. Bekerja sebagai V-TEAM MBOS (Management by Olympic System). Apalagi bila bersama dengan Pak Afif Mufrodi, SE., Sarjana Ekonomi Universitas Jambi yang kesehariannya bercanda tentang hal-hal di luar dugaan. Meski kadangkala jika sedang serius, jangan coba-coba juga untuk mengganggunya. Bekerja di dalam tim sebagai ISO Controller.

Bu Eka Purnama Sari, SS (Sastra Inggris Unand) sebagai ISO Document Updater. Bila sudah bersama Bu Fitri Yuli Kartika, SH (USU) pasti segalanya menjadi ceria. Bu Fitri bertanggung jawab dalam administrasi divisi QRD. Kedua Ibu-Ibu dahsyat ini meskipun bekerja dengan semangat tapi keduanya paling takut sama hantu, hehe.

Pak Legiono, S.Si  (Statistika Universitas Islam Indonesia), seorang yang low profile, ramah, baik dan segaa macam ciri khas kejawaannya. Mas Legi, itulah panggilan sehari-hari untuk beliau. Beliau bertanggung jawab dalam hal sistem sertifikasi halal, LEI, PEFC, SVLK dan hal-hal yang berhubungan dengan internal audit. Saya sendiri juga punya kerjaan tentang pelaksaaan tindakan perbaikan dan  pencegahan yang berhubungandengan sertifikasi ISO. Di sini saya belajar tentang CPAR (corrective preventive action request) dan cara mengendalikan dokumen serta implementasinya. Juga tentang Customer Complaint, ANCR, de el el. Bersama Mas Legi, saya berkaitan pekerjaan terutama dalam internal audit ISO dan ANCR-nya.

Satu lagi manusia hebat di tim ini adalah Pak Yuan Thohari, ST seperti yag pernah saya ceritakan pada postingan bulan Agustus 2011 yang lalu. Sarjana Teknik Lingkungan alumnus Universitas Andalas ini punya potensi untuk mudah akrab dan pemaaf. Tidak ada masalah yag tidak selesai. Permudah jangan dipersulit.

Pagi sudah hampir usai. Saatnya mengakhiri tulisan, lain kali disambung.

Jumat, Desember 23, 2011

Kehilangan




Ketika kita tak pernah (merasa) memiliki maka kita tak akan pernah (merasa) kehilangan, demikian sebaliknya. Hal yang terberat dalam hidup ini sekaligus sebagai ciri khas kesedihan dan duka adalah merasakan kehilangan hal-hal yang pernah dimiliki. Buktikanlah jika masih tak percaya. Itulah makanya ketika kita kehilangan hal-hal yang bersifat duniawi, segerakanlah diri untuk mereviw bahwa apa yang baru saja hilang memang bukanlah milik kita. Anggap saja kita tak pernah memilikinya, kalaupun singgah dalam hidup kita, itu hanya titipan. Jujur,  apa yang baru saja saya tuliskan adalah hal terberat bagi siapapun ketika menghadapi kehilangan. Siapapun!

Ada yang datang dan ada yang pergi. Begitulan hidup. Kedatangan identik dengan suka sedangkan kepergian identik dengan duka. Suka duka, keduanya silih berganti bagi siapapun penghuni bumi. Seberat-berat kepergian adalah ketika suatu saat momen itu berhimpit erat dengan kehilangan. Pasti lidahmu kelu untuk sekadar berucap, jangan. Sementara takdir adalah suatu yang harus berjalan dan dijalani. Allah adalah sebaik-baik designer. Dia tidak pernah ragu dan bukanlah peragu memutuskan dan tidak pantas untuk diragukan.

Sudahlah. Kita selesaikan saja cerita ini. Saya tidak ingin melanjutkan. Biarlah kita punya cerita sendiri tentang hal ini. Simpan saja.

Kamis, Desember 22, 2011

Learning Anytime Anywhere

Sebuah Penggalan opiniku

Prinsip pembelajaran zaman dahulu berdasarkan pada “learning at school” hari  ini hal tersebut tersebut dipahami sebagai prinsip yang tidak relevan lagi. “Learning anytime anywhere” adalah landasan yang lebih ssesuai. Ini disebabkan oleh perkembangan zaman secara cepat dalam hitungan detik telah merubah pola pembelajaran individu.  Bila hanya mengandalkan sekolah sebagai satunya cara untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu, tampaknya membuat para peserta didik menjadi kaku bahkan cenderung tidak mampu mengikuti alur perkembangan ilmu. Tiba-tiba saja mereka dihadapkan pada suatu keadaan yang mereka tidak memahaminya darimana datangnya dan mengapa bisa berubah dan sebagai apa ia berubah.

Pendidikan hari ini harus diarahkan kepada suatu pola dimana mata ajar bukanlah kemutlakan yang diajarkan pada alokasi waktu pembelajaran yang telah ditentukan, akan tetapi suatu cara atau beberapa tips untuk memahami mata ajar adalah penting untuk memberikan kapabilitas baru bagi peserta didik. Kapabilitas yang dimaksudka di sini adalah kemampuan mereka untuk belajar mandiri terkait mata ajar tersebut. Tatap muka yang terbatas di sekolah atau kampus hendaknya dilakukan sebagai cara “learn how to learn”, jadi bukan semata-mata sebagai aktivitas learning saja. Seorang pendidik, Guru, Dosen atau apapun namanya harus memiliki kemampuan untuk merancang sebuah pembelajaran agar berformat sebagai “learning how to learn”. Dengan rancangan yang semacam ini, learning anywhere anytime dapat dengan mudah terlaksana. Suatu saat tanpa kehadiran Sang Guru, karakter sang Pembelajar tetap melekat pada diri sang learnernya.


Rabu, Desember 21, 2011

Berbicara Tentang Limbah Cair Industri Pulp & Kertas

Pada tulisan ini, saya akan berbicara secara dangkal tentang limbah cair di dalam industri pulp dan kertas. Sebenarnya terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara industri pulp dan industri kertas. Kedua industri tersebut pada umumnya terpisah. Pulp atau lebih sederhana disebut bubur kertas adalah bahan baku untuk industri kertas. Baik industri pulp maupun industri kertas, keduanya memiliki limbah cair (wastewater) yang berbahaya bagi lingkungan apabila tidak dikelola dengan semestinya. Selain limbah cair dari industri pulp dan kertas, yang paling populer di luar negeri adalah industri daur ulang kertas yang juga menghasilkan limbah cair yang hampir serupa.

Disamping limbah cair yang dihasilkan oleh ketiga industri tersebut, berdasarkan sumber terpercaya yang diperoleh oleh penulis bahwa pada tahun 2007 (Sugiyono, 2009), industri pulp dan kertas memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi perkembangan perekonomian nasional. Sekitar 1,3 % dari pendapatan nasional berasal dari sektor industri pulp dan kertas. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa industri pulp dan kertas membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang besar sehingga mampu mengurangi pengangguran secara nasional. Apabila pengangguran berkurang maka secara langsung akan berdampak bagi peningkatan perekonomian. Sisi positif dari industri ini jangan sampai melalaikan kita untuk mengetahui juga sisi negatifnya, terutama limbah cair yang dihasilkan oleh industri sebagai dampak dari sejumlah aktivitas industri tersebut.

Untuk mengkaji limbah cair dari industri pulp, sebaiknya perlu pemahaman tentang proses produksi dalam industri pulp. Komposisi polutan dalam limbah cair industri pulp sangat tergantung dari bahan baku yang digunakan. Adapun bahan baku yang paling utama adalah kayu. Proses industri dimulai dari proses pemasakan kayu hingga proses pemutihannya. Dalam pemutihan, prinsip yang digunakan adalah perusakan senyawa lignin yang terkandung di dalam kayu. Sebagai pengaruh dari lignin yang rusak adalah diperolehnya pulp yang putih (cerah). Standar kualitas produk pulp salah satunya adalah kecerahan (brghtness) yang dinyatakan dalam satuan % ISO. Semakin tinggi nilai % ISO maka semakin tinggi kecerahan pulp. Warna pulp tersebut tergantung pada jenis kayu yang digunakan sebagai bahan baku dan juga bahan-bahan lain yang tercampur dalam proses produksi. Penggunaan berbagai macam bahan untuk mendapatkan pulp yang putih, khususnya bahan kimia, akan memberikan pengaruh yang sangat tidak menguntungkan bagi lingkungan, seperti klorin atau klorin dioksida.

Proses kimia dalam industri pulp dapat dibedakan atas dua jenis yakni proses kraft dan proses sulfida. Proses kraft adalah proses kimia dalam kondisi basa.  Lignin dalam kayu akan dihancurkan oleh NaOH atau Na2S, yang memberikan sumbangsih bagi pencemaran. Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah bau yang dihasilkan dalam proses kraft yang sangat menyengat.

Limbah cair yang dihasilkan mengandung SO2 dan pH berkisar antara 8 hingga 9. BOD dan COD ditentukan oleh jenis kayu yang digunakan. Biasanya angka BOD5 berada pada kisaran  1- 2 g/L, sedangkan COD berada pada kisaran 4- 7 g/L.

Proses sulfit adalah proses kimia dalam kondisi asam. Pengaruh yang ditimbulkan tidak sama bila dibandingkan dengan proses kraft. Prosedur pada proses sulfit lebih sensitif terhadap pencemaran dalam arti bahwa tidak separah proses kraft.  Keuntungan lain yang dapat diperoleh pada proses sulfit adalah bervariasinya proses serta kondisi produksi tanpa adalanya senyawa -tiol dan pembentukan sulfida yang tidak dikehendaki.

Selain dua proses di atas, ada juga proses lain yang disebut dengan proses semikimia. NSSC (Neutral Sulphite Semichemical) adalah bahan yang umumnya digunakan. TMP (Thermo-Mechanical Process) digunakan dalam menghasilkan kertas cetak. CTMP (Chemi-Thermo-Mechanical Process) adalah proses yang sangat efisien (mendekati 95 %), penggunaan air lebih kecil dari proses lain, akan tetapi water memerlukan energi yang besar untuk memproduksi pulp.

Di dalam industri ini, jumlah air yang bercampur dengan limbah amat tinggi. Mendekati 30 m3/t pulp apabila menggunakan proses mekanik dan dapat mencapai 150 m3/t pulp bila menggunakan proses kimia. Limbah cair tersebut mengandung sekitar 10- 30% fiber, fibril, dan CaCO3. Angka BOD5 dan COD juga ditentukan oleh bahan baku kayu yang digunakan. (BOD5- 100- 1.000mg/L; COD- 300- 4.000mg/L). Limbah cair diolah melalui teknologi vaporisasi, insinerasi, dan rekoveri.

Industri kertas merupakan kelanjutan dari industri pulp atau industri daur ulang kertas. Dalam proses industri kertas diperlukan bahan-bahan antara lain : kaolin, CaCO3, bedak (talc) atau TiO2 yang ditambahakn pada pulp untuk memberikan sifat putih pada kertas.
Industri Daur Ulang Kertas

Pulp juga dapat dibuat dari kertas yang didaur ulang. Akan tetapi prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Adanya tinta yang tertulis pada kertas bekas akan berpengaruh pada beratnya proses yang akan dilalui untuk kembali menjadi pulp yang putih bersih.

Proses yang dilakukan adalah proses pemutihan dengan menggunakansejumlah bahan kimia pemutih. Penggunaan peroksida, oksigen, dan ozon tidak seefisien bila menggunakan klorin atau klorin dioksida namun penggunaan senyawa kimia yang terakhir ini memiliki dampak yang luar biasa bagi lingkungan yakni adanya peningkatan bilangan AOX secara signifikan.

Limbah cair yang dihasilkan dalam industri daur ulang ini juga mengandung partikel yang harus disaring. Biasanya kertas bekas yang dijadikan bahan baku masih bercampur dengan plastik atau mungkin juga bercampur dengan logam seperti klip kertas. Campuran non-kertas tersebut harus dihilangkan dalam proses daur ulang.

Sumber bacaan utama dengan perubahan dan penambahan seperlunya :
1.      http://www.lenntech.com/pulp-and-paper-industry-water-treatment.htm
2.      Prosiding Seminar Teknologi Pulp dan Kertas (Bandung, 18 November 2009)

Terima kasih atas kunjungan Anda di blog yang sederhana ini. Semoga bermanfaat