Jumat, 11 November 2011

Model Pembelajaran Inquiry Training

Oleh Jul Hasratman D. Musa, S.Si
(Magister Pendidikan IPA - Kimia, Universitas Jambi)

Salah satu model pembelajaran yang akan diperkenalkan dalam tulisan ini adalah model pembelajaran inquiry training (inquiry training model) atau juga dikenal dengan istilah inquiry-based learning. Dalam pembelajaran bidang Sains, model ini sampai sekarang masih tetap dianggap sebagai metode yang cukup efektif. Joko menyebutkan dari David L. Haury dalam artikelnya, Teaching Science Through Inquiry (1993) mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred Novak : inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu.

Model menggambarkan tingkat terluas dari praktek pendidikan dan berisikan orientasi filosofi pembelajaran. Model digunakan untuk menyeleksi dan menyusun strategi pengajaran, metode, keterampilan, dan aktivitas siswa untuk memberikan tekanan pada salah satu bagian pembelajaran (topik konten). "Inquiry" didefinisikan sebagai upaya untuk mencari kebenaran, pengetahuan, atau upaya untuk mencari informasi melalui serangkaian pertanyaan.

Sebuah peribahasa berbahasa Inggris : "Tell me and I forget, show me and I remember, involve me and I understand." Hal yang disebutkan pada kalimat terakhir, “involve me and I understand” adalah salah satu dasar pemikiran dalam model inquiry training. Keterlibatan siswa dalam porsi yang cukup besar amat menentukan kepahaman siswa dalam materi pembelajaran tersebut. Model inquiry merupakan model pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar.

Alasan rasional penggunaan model inquiry adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai Sains dan akan lebih tertarik terhadap Sains jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” Sains. Perlu diketahui bahwa investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung inquiry. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep Sains dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berfikir ilmiah tersebut.

Di dalam pembelajaran konvensional yang sebelumnya kita kenal, siswa diarahkan sedemikian rupa sehingga siswa menjadi sedikit bertanya dan kurang kreatif mengelola rasa ingin tahunya. Penyampaian materi ajar dirancang oleh guru tanpa memperhatikan keterlibatan siswa dalam mencaritahu sendiri apa yang ingin diketahuinya tentang suatu topic bahasan. Beberapa hal yang menyebabkannya adalah kurangnya pemahaman pendidik atau guru dalam memahami model inquiry training bahkan tidak mengetahuinya sama sekali.

Perlu juga ditekankan bahwa inquiry training tidak hanya sekedar memancing siswa untuk mengemukakan pertanyaan melainkan lebih dari itu. Kompleksitas inquiry terjadi melalui proses keterlibatan siswa dalam mengumpulkan informasi atau data yang kemudian dimanfaatkannya sebagai bentuk pengetahuan baru. Proses ini lahir dari rasa penasaran atau rasa ingin tahunya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.

Menurut penelitian Iklima (2011), model pembelajaran inquiry training memberi kesempatan siswa untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar di dalam kelas. Keaktifan tersebut meliputi keaktifan dalam mengajukan dan menjawab pertanyaan, melakukan eksperimen, dan diskusi kelompok. Proses pelaksanaan pembelajaran dengan model inquiry training diawali dengan tahapan konfrontasi dengan masalah, pengumpulan dan verifikasi data, pengumpulan data-eksperimentasi, mengorganisasi dan merumuskan penjelasan, serta menganalisis proses inquiry.

Berdasarkan hasil penelitian Arief (2010) yang menggunakan metode eksperimen dalam penelitiannya, penggunaan model inquiry training dalam belajar fisika memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar siswa, adanya kreativitas tinggi, dan sikap ilmiah tinggi. Joko juga menyebutkan bahwa model inquiry dalam belajar Sains memiliki pengaruh yang tinggi terhadap motivasi belajar siswa. Akhirnya Joko menyimpulkan bahwa berdasarkan penjabaran kelima komponen dalam metode inquiry ditinjau dari berbagai teori tentang motivasi dan rasa ingin tahu (curiosity) terlihat bahwa model inquiry memberikan kesempatan meningkatnya motivasi belajar siswa.

Model inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa model inquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam Sains saja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa.

Adapun peranan guru dalam pembelajaran dengan model inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.

Walaupun dalam praktiknya aplikasi pembelajaran model inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan model inquiry memiliki 5 (lima) komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005) sebagaimana disebutkan dalam Joko.

Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini – sesuai dengan Taxonomy Bloom – siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstruksi.

Student Engagement. Dalam model inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.

Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.

Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.
Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.

Secara umum Joyce dan Weill (1986) mengidentifikasi empat model pembelajaran yakni (a) model proses informasi, (b) model personal, (c) model interaksi sosial, dan (d) model behavior. Model inquiry training masuk dalam kategori “model proses informasi”. Masih menurut Joice dan Weill (1987), model pembelajaran inquiry training terdiri atas lima fase yaitu : 1. Menghadapkan masalah, 2. Mencari dan mengkaji data, 3. Mengkaji data dan eksperimentasi, 4. Mengorganisasikan, merumuskan, dan menjelaskan hasil, 5. Menganalisis dan mengorganisasikan hasil penelitian.

Heather Banchi dan Randy Bell (2008) menyarankan 4 (empat) tingkatan inquiry, mulai dari yang terendah hingga tingkatan yang tertinggi atau tingkatan yang dianggap sempurna. Tingkatan pertama disebut inquiry konfirmasi (confirmation inquiry). Siswa diberikan pertanyaan dan juga diberikan metode atau prosedur oleh guru untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan. Pada tingkatan ini, siswa hanya mengerjakan sesuai instruksi terkonfirmasi oleh pengajar.

Tingkatan kedua, inquiry terstruktur (structured inquiry). Hampir sama dengan tingkatan pertama, akan tetapi di sini siswa memainkan peranan aktif dalam memberikan penjelasan secara mandiri berdasarkan bukti ilmiah yang mereka kumpulkan. Tingkatan ketiga, inquiry terbimbing (guide inquiry). Guru menyediakan sebuah pertanyaan berciri pertanyaan penelitian dan siswa merancang prosedur atau metodenya sendiri untuk daftar pertanyaan yang juga mereka rancang sendiri, sehingga dengan ini siswa mampu memberikan penjelasan. Pada tingkatan ini, siswa lebih banyak terlibat lebih daripada inquiry terstruktur. Akan lebih berhasil apabila siswa memliki banyak peluang atau kesempatan untuk mempelajari sendiri dan mempraktikkannya dengan berbagai cara eksperimen dan pengumpulan data.

Tingkatan keempat disebut inquiry terbuka (open inquiry). Tingkatan ini dianggap paling sempurna dan menyeluruh dalam proses inquiry. Dalam tingkatan open inquiry, siswa memiliki peluang atau kesempatan yang sangat besar dalam hal bertindak layaknya seorang ilmuwan peneliti, merancang pertanyaan dan menurunkannya, merancang dan melaksanakan investigasi, serta mengkomunikasikan hasilnya.

Yang penting diperhatikan di sini adalah siswa membaca dan berusaha mencari informasi dalam keadaan “butuh” informasi yang kita sajikan (yang harus dikuasai siswa). Kebutuhan merupakan salah satu pendorong (motif) siswa untuk melakukan sesuatu. Pada saat “butuh” informasi tersebut, siswa juga akan membuka seluruh inderanya sehingga siap untuk menerima berbagai informasi, yang selanjutnya akan mereka rekam dalam ingatan mereka.

Berbagai kegiatan dapat dirancang untuk bisa menciptakan situasi dan kondisi bagi siswa untuk melakukan tugasnya yaitu belajar dengan kemauannya sendiri. Maka dari itu, seorang guru harus mampu mengenali lebih dekat apa yang menarik bagi siswanya, sehingga dapat mempertimbangkan dan akhirnya merancang sebuah kegiatan yang “laku” di hadapan siswa.

Model inquiry training menurut Suchman (1962) diturunkan dari teori berikut :
1. Orang secara alamiah akan bertanya-tanya (mencari tahu) jika dia dihadapkan pada sebuah teka-teki.
2. Dia akan menjadi waspada dan belajar menganalisa strategi berfikirnya.
3. Strategi belajar yang baru dapat diajarkan secara langsung padanya dan menambah strategi berfikir yang telah ada.
4. Adanya kerjasama, saling mengungkapkan ide, strategi berfikir, dapat memperkaya strategi berfikir dan membantu siswa belajar tentang pengetahuan sementara (tentatif), pengetahuan yang muncul begitu saja, dan dapat menghargai alternatif-alternatif penjelasan.

Model inquiry training dapat dipakai pada berbagai mata pelajaran atau mata kuliah dan dapat diadaptasikan pada berbagai usia, bahkan usia TK sekalipun. Adaptasi dapat dilakukan dengan menyederhanakan masalah, atau dengan menggunakan materi/alat bantu visual, petunjuk-petunjuk yang lengkap dan mudah diingat.

Model inquiry training ini, selain dapat mencapai tujuan sebuah pokok bahasan juga dapat meningkatkan :
1. Keterampilan proses (mengamati, mengumpulkan dan mengolah data, dan sebagainya);
2. Pelajar aktif dan mandiri;
3. Pengungkapan verbal;
4. Toleransi terhadap keadaaan yang ambigu (memiliki dua arti) dan juga ketekunan;
5. Berfikir logis;
6. Sikap bahwa semua pengetahuan itu sifatnya sementara.

Aturan-aturan yang harus dipegang dan harus ada dalam model pembelajaran ini adalah:
1. Adanya kerjasama;
2. Adanya kebebasan berfikir;
3. Adanya kesamaan derajat.

Seorang guru ketika beraksi sepanjang proses inquiry harus memakai prinsip-prinsip berikut :
1. Guru menekankan bahwa pertanyaan yang boleh diajukan siswa dinyatakan dalam kalinat pertanyaan tertutup (jawabannya hanya “ya” dan “tidak”).
2. Guru meminta siswa menyusun ulang pertanyaan yang tidak sesuai.
3. Guru hanya menunjukkan poin-poin yang tidak sesuai atau keluar dari topik.
4. Guru menggunakan bahasa inquiry (hipotesa kemudian uji).
5. Guru tidak dibenarkan untuk mengevaluasi teori yang diajukan siswa pada saat proses inquiry berlangsung.
6. Guru menekankan agar siswa membuat pernyataan yang lebih jelas tentang teorinya dan memberikan dukungan untuk generalisasi teori tersebut.
7. Guru memberi dukungan ke arah interaksi antar siswa.

Adapun keterlibatan siswa dalam model inquiry training memunculkan beberapa karakteristik  yakni: 1. memiliki pandangan terhadap dirinya sebagai pembelajar dari proses pembelajaran, 2. Siswa menerima ajakan untuk belajar dan kemauan besar dalam proses eksplorasi, 3. Siswa mampu mengemukakan pertanyaan, mengajukan penjelasan, dan melakukan investigasi, 4. Siswa merencanakan dan mengadakan kegiatan pembelajaran, 5. Siswa saling berkomunikasi menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan informasi atau data, 6. Siswa mampu mengkritik secara mandiri proses praktik pembalajaran yang mereka lakukan sendiri

BAHAN BACAAN PENULIS
1. Iklima, Maulidiyatul. 2011. Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Training. SKRIPSI. Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang.
2. Kusuma, Arief Ertha. 2010. Pembelajaran Fisika Menggunakan Inquiry Training dan Inquiry Social Ditinjau dari Kreativitas dan Sikap Ilmiah Siswa. TESIS. Program Studi Pendidikan Sains Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Sutrisno, Joko. Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry dalam Belajar Sains terhadap Motivasi Belajar Siswa
4. http://www.thirteen.org/ edonline/concept2class/ inquiry/
5. http://en.wikipedia.org/wiki/ Inquiry-based_learning
6. http://www.inquirylearn.com/ Inquirydef.htm
7. http://kbmefektif.wordpress. com/2011/02/10/model-inquiry- training/
8. http://www.pwcs.edu/ curriculum/sol/suchman.htm

*) Tulisan ini disusun sebagai salah satu bahan presentasi pada Mata Kuliah Model Pembelajaran Sains, diasuh oleh Dr. rer. nat. H. Rayandra Asyhar dan Dr. rer. nat. Asrial (Dosen Kimia Universitas Jambi). Ditulis oleh Jul HD, S.Si., alumnus S1 Kimia Universitas Andalas, Mahasiswa Pascasarjana Program Magister Pendidikan IPA (Konsentrasi Ilmu Kimia) Universitas Jambi. Saat ini aktif bekerja sebagai staf di bidang Quality Assurance PT. Lontar Papyrus Pulp and Paper Industry (Sinar Mas Group), Tanjung Jabung Barat, Jambi.

2 komentar:

Saipul Effendi,S.Pd mengatakan...

terimakasih atas postingannya,,,sangat membantu jd bahan referensi saya....

Jul Hasratman mengatakan...

Sama2 Mas, terima kasih atas kunjungannya...