Maklumlah, JHD sedang sibuk.
Senin, 14 September 2009
Cinto… Antahlah
“Kalau tak mungkin lagi kita, bercerita tentang cinta…”
Lagu Nia Daniaty (betul ya?), kalau tidak salah itu cuplikan syairnya lagu Nia Daniaty. Lagu ini diputar di bus perusahaan yang saya tumpangi sepulang kerja, kemarin. Wah, ini mengingatkan masa kecil saya ketika dahulu bunda sangat senang memutar lagu itu di tape, di saat-saat beliau lagi ‘nyantai di rumah. Tapi yang lebih serunya dan terasa seperti sebilah pisau yang mengiris, adalah sya’ir itu sekaligus mengingatkan saya tentang takdir cinta, katakanlah semacam kekecewaaan dalam cinta. Hush, ngomong cinta, jangan keras-keras, tak baek… Orang akan banyak yang su’uzhan ‘ntar…
Nah, itu, cinta. Lagi-lagi cinta. Cinto… antahlah. Mungkin, itu sebuah sya’ir yang berwujud pada penyerahan dalam akhir episodenya, eps, tapi ingat, ini bukan penghambaan dalam masalah cinta. Penghambaan hanyalah untuk-Nya. Menyerah! Cerita cinta yang sudah tidak mungkin dilanjutkan, Begitulah kesimpulannya. Semoga dimengerti. Titik
Titik...
SELENGKAPNYA BACA......
Lagu Nia Daniaty (betul ya?), kalau tidak salah itu cuplikan syairnya lagu Nia Daniaty. Lagu ini diputar di bus perusahaan yang saya tumpangi sepulang kerja, kemarin. Wah, ini mengingatkan masa kecil saya ketika dahulu bunda sangat senang memutar lagu itu di tape, di saat-saat beliau lagi ‘nyantai di rumah. Tapi yang lebih serunya dan terasa seperti sebilah pisau yang mengiris, adalah sya’ir itu sekaligus mengingatkan saya tentang takdir cinta, katakanlah semacam kekecewaaan dalam cinta. Hush, ngomong cinta, jangan keras-keras, tak baek… Orang akan banyak yang su’uzhan ‘ntar…
Nah, itu, cinta. Lagi-lagi cinta. Cinto… antahlah. Mungkin, itu sebuah sya’ir yang berwujud pada penyerahan dalam akhir episodenya, eps, tapi ingat, ini bukan penghambaan dalam masalah cinta. Penghambaan hanyalah untuk-Nya. Menyerah! Cerita cinta yang sudah tidak mungkin dilanjutkan, Begitulah kesimpulannya. Semoga dimengerti. Titik
Titik...
Senin, 24 Agustus 2009
Ramadhan 1
“Yaa Ayyuhalladziina aamanuu, kutiba ‘alaikumushshiyam….”
Saya mencoba mengingat-ingat irama murattal itu, irama syahdu nan melantun tegas dari MP3 player, dahulu… ketika di Padang. Ingatan itu saya re-call untuk hari ini, ingatan untuk sebuah irama yang mirip, dipersembahkan khusus untuk malam ini, mengapa? Hmmm, astaghfirullah, karena saya diamanahkan menjadi Qori’ pada malam pertama tarawih, 1 Ramdhan di Masjid JIHAD. Komplek perusahaan tempat saya bekerja… Saat membuka mushhaf, dan kemudian memulai satu persatu membaca urutan ayat shaum itu, di hadapan hadirin jamaah AL JIHAD. Mata saya terpejam, bukan karena sudah menbghafal ayat itu (Al Baqarah), tapi yang teringat adalah kisah-kisah Ramadhan yang saya ukir setahun dua tahun, bahkan bertahun-tahun yang lalu, saya menangis ya Allah… Sangat sedikit saya dekat denganMu ya Allah… Astaghfirullah…
Hingga pada ayat yang sangat membuat tersentuh batin, “berdoalah padaKu” kata Allah, “Aku kabulkan…”… Di sini, mata saya sedikit lembab, sebenarnya di tengah-tengah massa, tidak mudah untuk meneteskan airmata, tapi kali ini, ah… saya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya… Perlahan namun pasti, akhirnya ayat shaum itu berakhir juga, “subhanallah”, moderator memuji keindahan irama Al-Qur’an tadi, entah pujian apa yang dikatakan moderator, mudah-mudahan bukan untuk saya, melainkan Al-Qur’an itu sendiri yang dipuji, karena keindahannya… Subhanallah…
Hanya satu, permohonan yang saya ulang-ulang.. Ya Allah, anugerahkanlah saya keluarga yang shalih dan shalihah. Jadikanlah persahabatan, persaudaraan dan hubungan silaturrahim saya dengan sesama hamba-Mu tidak ada satupun yang terputus, tidak satupun! Tapi… ya Allah, saya sulit mengatakannya di sini. Engkau maha tahu segalanya, atas setiap apa yang saya sembunyikan dalam dada.
Malam pertama tarawih, satu sms untuk adinda, sudah tarawih dinda? “Baru aja pulang, bg…”, kira-kira begitu jawaban sms-nya, dst… Sesekali saya melihat jam tangan, oh, belum jam 22. InsyaAllah, malam ini, saya akan sahur di laboratorium, karena panggilan dinas malam telah menanti! Bermalam di laboratorium…
Ya, begitulah, singkat-singkat sebuah perjalanan kecil. Memulai Ramadhan bersama ‘keceriaan’ asing di tengah hutan belantara yang agak ramai, dihuni oleh beribu karyawan Sinarmas. Oh, Pa, Ma, adik-adikku.. Maafkanlah, Ramadhan saya kali ini, jauh dari kebiasaan yang dibiasakan sejak dahulu.
SELENGKAPNYA BACA......
Saya mencoba mengingat-ingat irama murattal itu, irama syahdu nan melantun tegas dari MP3 player, dahulu… ketika di Padang. Ingatan itu saya re-call untuk hari ini, ingatan untuk sebuah irama yang mirip, dipersembahkan khusus untuk malam ini, mengapa? Hmmm, astaghfirullah, karena saya diamanahkan menjadi Qori’ pada malam pertama tarawih, 1 Ramdhan di Masjid JIHAD. Komplek perusahaan tempat saya bekerja… Saat membuka mushhaf, dan kemudian memulai satu persatu membaca urutan ayat shaum itu, di hadapan hadirin jamaah AL JIHAD. Mata saya terpejam, bukan karena sudah menbghafal ayat itu (Al Baqarah), tapi yang teringat adalah kisah-kisah Ramadhan yang saya ukir setahun dua tahun, bahkan bertahun-tahun yang lalu, saya menangis ya Allah… Sangat sedikit saya dekat denganMu ya Allah… Astaghfirullah…
Hingga pada ayat yang sangat membuat tersentuh batin, “berdoalah padaKu” kata Allah, “Aku kabulkan…”… Di sini, mata saya sedikit lembab, sebenarnya di tengah-tengah massa, tidak mudah untuk meneteskan airmata, tapi kali ini, ah… saya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya… Perlahan namun pasti, akhirnya ayat shaum itu berakhir juga, “subhanallah”, moderator memuji keindahan irama Al-Qur’an tadi, entah pujian apa yang dikatakan moderator, mudah-mudahan bukan untuk saya, melainkan Al-Qur’an itu sendiri yang dipuji, karena keindahannya… Subhanallah…
Hanya satu, permohonan yang saya ulang-ulang.. Ya Allah, anugerahkanlah saya keluarga yang shalih dan shalihah. Jadikanlah persahabatan, persaudaraan dan hubungan silaturrahim saya dengan sesama hamba-Mu tidak ada satupun yang terputus, tidak satupun! Tapi… ya Allah, saya sulit mengatakannya di sini. Engkau maha tahu segalanya, atas setiap apa yang saya sembunyikan dalam dada.
Malam pertama tarawih, satu sms untuk adinda, sudah tarawih dinda? “Baru aja pulang, bg…”, kira-kira begitu jawaban sms-nya, dst… Sesekali saya melihat jam tangan, oh, belum jam 22. InsyaAllah, malam ini, saya akan sahur di laboratorium, karena panggilan dinas malam telah menanti! Bermalam di laboratorium…
Ya, begitulah, singkat-singkat sebuah perjalanan kecil. Memulai Ramadhan bersama ‘keceriaan’ asing di tengah hutan belantara yang agak ramai, dihuni oleh beribu karyawan Sinarmas. Oh, Pa, Ma, adik-adikku.. Maafkanlah, Ramadhan saya kali ini, jauh dari kebiasaan yang dibiasakan sejak dahulu.
Selasa, 18 Agustus 2009
PESAN-PESAN UNTUK ADINDA
Seperti biasa, mentari bersinar serutin-rutinnya…
Tanpa menyalahi aturan-Nya…
Ada keceriaan di wajah ini.
Meski ada sedikit misteri!
Nah, tak mengapa.
Ini adalah sebuah pilihan hidup…
Sahabat,
12 sampai 13 Agustus,
JHD jalan-jalan ke kota Jambi
Ditemani oleh adinda sayang…
Sayang seribu sayang, karena Allah tercinta!
Ha…. Bingung,
Waktu yang teramat singkat untuk bertemu…
Tidak banyak kesan,
Kecuali sebongkah pesan dan nasihat dari seorang abang…
(Abang yang berlagak shalih… hehehe)
Sebuah Hotel yang tak jauh dari Ramayana Kota Jambi
Turut menjadi saksi pesan-pesan ini…
- Jangan lupa doain bunda dalam setiap shalat…
- Janganlah bermaksiat, jikalau memang sdh terlanjur dan terpaksa pacaran… (hahaha…)
- Ada prinsip hidup sebelum memutuskan untuk berpacaran “Ketahuilah adikku, laki-laki yang baik-baik hanya untuk wanita yang baik-baik!”
- Jangan malas ikut ngaji.. Ngaji itu, kita banget! Bukan jadi teroris…
- Rajin kuliah dan beribadah, insyaAllah banyak kemudahan didatangkan Allah dalam hidup….
Dinda, aku tahu, ada yang beda di wajahmu ketika mendengarkannya..
Kulihat, dari sudut matamu… bening…
Walau tak sampai bertitik…
Sahabat,
Bagi siapapun yang membaca…
Semoga apa yang ditulis ini menorehkan manfaat…
Manfaat…
Marhaban yaa Ramadhan…
Saatnya kita merdeka dari segala nafsu!
Dari segala jerat2 setan…
MERDEKA!!!
SELENGKAPNYA BACA......
Tanpa menyalahi aturan-Nya…
Ada keceriaan di wajah ini.
Meski ada sedikit misteri!
Nah, tak mengapa.
Ini adalah sebuah pilihan hidup…
Sahabat,
12 sampai 13 Agustus,
JHD jalan-jalan ke kota Jambi
Ditemani oleh adinda sayang…
Sayang seribu sayang, karena Allah tercinta!
Ha…. Bingung,
Waktu yang teramat singkat untuk bertemu…
Tidak banyak kesan,
Kecuali sebongkah pesan dan nasihat dari seorang abang…
(Abang yang berlagak shalih… hehehe)
Sebuah Hotel yang tak jauh dari Ramayana Kota Jambi
Turut menjadi saksi pesan-pesan ini…
- Jangan lupa doain bunda dalam setiap shalat…
- Janganlah bermaksiat, jikalau memang sdh terlanjur dan terpaksa pacaran… (hahaha…)
- Ada prinsip hidup sebelum memutuskan untuk berpacaran “Ketahuilah adikku, laki-laki yang baik-baik hanya untuk wanita yang baik-baik!”
- Jangan malas ikut ngaji.. Ngaji itu, kita banget! Bukan jadi teroris…
- Rajin kuliah dan beribadah, insyaAllah banyak kemudahan didatangkan Allah dalam hidup….
Dinda, aku tahu, ada yang beda di wajahmu ketika mendengarkannya..
Kulihat, dari sudut matamu… bening…
Walau tak sampai bertitik…
Sahabat,
Bagi siapapun yang membaca…
Semoga apa yang ditulis ini menorehkan manfaat…
Manfaat…
Marhaban yaa Ramadhan…
Saatnya kita merdeka dari segala nafsu!
Dari segala jerat2 setan…
MERDEKA!!!
Kamis, 13 Agustus 2009
Apakah Teroris Itu Juga Gembira?
Hebat, padek… Karena kita dan antum semua bergembira dengan datangnya Ramadhan yang mulia. Tapi ingat, ada sebagian orang yang pura-pura gembira.
Begitulah, dunia penuh cerita yang berwarna. Tak satu warna saja, tak cerah atau kelam saja. Maka tak heran jika banyaklah orang mengatakan hidup penuh warna-warni. Tapi ada suatu pertanyaan, bagaimana dengan insan yang terbentuk dari perpaduan warna. Dalam arti dalam satu jiwa ada dua karakter yang ia bawa. Sebagaimana hijau, ia biru dan kadang menguning, tergantung faktor pemantulnya. Karena hakikatnya ia adalah warna pepadu!
Kita kembali lagi pada kisah tentang kebahagiaan menyambut Ramadhan. Ada satu cerita mungil dari ujung jalan kecil. Seorang Bapak yang sedang basah kuyup karena hujan, bercampur keringat memikul kayu baker. Dalam benak ia sedang berpikir keras, tentang persiapan apa yang dimasak saat sahur dan berbuka, beberapa hari lagi. Di bulan itu, ia merasa, terlalu lelah untuk mencari… (Bersambung…)
SAHABATKU...
Di Jalan Ini, Ia Bukan Sahabat Biasa.
Ini Tentang Pemaknaan Hidup, Agar Ia Memberi Manfaat Sampai Detik Perpisahan Itu Tiba, Seraya Tetap Bertekad 'HIDUP INDAH DI BAWAH NAUNGAN AL-QUR'AN'
Ini Tentang Pemaknaan Hidup, Agar Ia Memberi Manfaat Sampai Detik Perpisahan Itu Tiba, Seraya Tetap Bertekad 'HIDUP INDAH DI BAWAH NAUNGAN AL-QUR'AN'
KATEGORI
Pikiran-Pikiran JHD,
Pribadi
Rabu, 12 Agustus 2009
Agustus Pilu, Mengenang Duka
Dan biarlah aku yang tahu tentang ini semua…
Karena kupikir, engkaupun tak mau tahu, lagi.
Setahun telah berlalu, wajah sedih itu masih terbayang. Keresahan tentang masa depan, cita dan cinta, membayangi setiap celah nafas kehidupanku, kala itu. Agustus 2008. Tidak berlebihan jika itu adalah bulan2 pilu dalam hidup seorang jhd, memang begitu, karena ia bukan seorang yang tegar. Ketegarannya mungkin sedikit ada, bila lebih, itupun hanya karena bantuan Allah terhadapnya.
Agustus pilu, mengenang luka yang menganga kala itu. SMS dan telepon dari orangtua tercinta, bertanya tentang wisuda, jadwal wisuda! Tetangga, sekampung, sudah wisuda, 4 tahun kurang 1 bulan, “KAMU BAGAIMANA?”.
Tanya dan sesal atau apapun, telah masuk ke telinga, arus perasaan yang merintih, menangis, ya Allah, harus bagaimana diri ini. Seperti inilah derita batin, karena kelalaian saat kuliah. Akhirnya, lambat, terlambat tamat… Pilu ini, rupanya berulang lagi di Desember 2008. Wisuda tidak jadi, meski segala persiapan sudah ada, termasuk dompet yang dipertebal utk Orangtua jalan-jalan ke Sumbar, saat hari H. Akhirnya, semua rencana gagal lagi, hanya karena nilai BL yang tidak samapai 2 SKS, yakni 1 SKS saja. Semua cita gugur, belum lagi, ada cela dari sana dan sini… Termasuk dari..., ah, tak guna diulang. Biarlah berlalu.
Agustus pilu 08, di kala wisma Iqra' kurasakan panas. Ada keceriaan yang hilang di antara sesama anggotanya. Dalam benakku aku berfikir, jangan-jangan ini adalah salahku, tak menghiraukan praktek ukhuwah yang sering aku teorikan selama ini. Ya, benar, ini adalah salahku. Hingga satu dua tiga, ada beberapa anggota yang keluar, mungkin karena aku. Ya Allah, ini lalaiku, ampuni ya Allah. Agustus pilu. Hingga akhirnya mereka pergi.
Agustus pilu 2008, Sangat memilukan di antara sekian pilu yang membebani. Ada cerita khusus yang tersimpan hingga saat ini. Atau katakanlah semacam derita dramatis dalam hidup, bukan berlebihan. Sebuah harapan tentang masa depan, mulai berangsur punah dan tak tahu kapan pulih lagi, meski itu bukan pilihan hidup. Ya Allah, seperti inikah kehendak-Mu. Aku merasa kehilangan cinta. Ada yang pergi dari hidupku, hingga saat ini kepergian itu menjauhkan aku, hingga nafasku hampir saja tidak mampu hilir mudik di ruang-ruang tenggorokanku. Seperti ini…. Hingga sekarang, dan tak tahu kapan berakhir.
Agustus itu, hingga ujung bulan. Melengkapi seluruh pilu dan duka. Seorang yang tercinta, telah resmi menuju citanya yang sesungguhnya. Meski ada upaya yang tidak sedikit untuk mempertahankan. Ah, karena ini citamu, semoga Allah menuntun langkah-langkahmu menjadi yang terbaik, demi keluarga, umat, dan din.
Hingga bulan September, liburan Ramadhan menjelang Lebaran Syawal, aku putuskan untuk pulang ke Gunungsitoli, tempat dimana ceria-ceriaku dulu terukir saat SMU. Keputusan yang di luar dugaan, Orangtua pun merasa aneh dengan keputusan itu, “lha, katanya gak mau pulang-pulang????” Karena dahulu, ada tekad yang tercetak di dinding kalbu, bahwa Gunungsitoli aku injak setelah gelar Doktor melengkapi nama panjangku. Tapi sekarang, aku lupakan itu semua, karena pilu yang 'melimpah' di sini, kota tercinta kujaga dan kubela (Cerita lengkapnya, tunggu novelnya).
...
Dan biarlah aku yang tahu tentang ini semua…
Karena kupikir, engkaupun tak mau tahu, lagi.
Jumat, 07 Agustus 2009
Awal Cerita Itu
Dari sini, cerita baru berawal.
Ya Allah, aku minta keberkahan atas segala ini.
Engkau adalah Maha Atas Segala-galanya.
Tuntunlah jalanku…
JHD
(Dokumentasi wisuda sebenarnya utk disimpan saja, maaf bila tercuplik di sini, sikkkit...)
Rabu, 05 Agustus 2009
“Dead Pixel” LCD Kehidupan
Hitam Tak Pernah Putih Atau Sebaliknya. Kata-kata tersebut adalah kata yang menyalahi sunnatullah. Ucapan itu bukanlah karakter yang keluar dari lisan dan atau tulisan seorang mukmin, yang sehari-harinya mengingat Allah, tilawah, dan rajin ke Masjid. Seharusnya…
Hitam bisa saja menjadi Putih, atau sebaliknya, bila Allah menghendaki, atau jika kita berikhtiar sepenuhnya atas izin Allah, perlu dicamkan lagi, bila kita berikhtiar.
Sebesar apapun noda-noda yang kita cipratkan di atas tubuh dari ujung rambut ke ujung kuku kaki kita sendiri atau ke tubuh saudara kita yang memuat segalanya menjadi hitam kelam, luar biasa gelapnya, akan tetapi lebih dari itu Allah memutihkan semuanya, bila Ia menginginkan. Hanya dengan sekali ‘bilas’ bahkan tak sampai sekali menurut hitung-hitungan manusia.
Hitam dan putih, bukanlah keterbalikan kedua fakta. Keduanya hanya corak yang mewarnai kehidupan. Alangkah tak indahnya dunia jika segala warna adalah hitam atau putih saja, bak televisi zaman dahulu yang ‘mungkin’ untuk saat pertama dikenal, ia adalah suatu hal yang asyik, asyiknya menonton gambar bergerak, sebatas itu saja. Namun lama kelamaan ada suatu kebosanan dan keinginan untuk lebih baik lagi. Sehingga tampillah warna-warna seperti yang bisa kita saksikan di layer monitor atau LCD saat ini. Gambar berwarna itu adalah paduan dari tiga warna dasar saja, sesungguhnya. Mungkin ahli atau pakar IT bisa menjelaskannya. Kumpulan-kumpulan tiga warna itu membentuk pixel, ya, itu pixel yang diset oleh masing masing transistor, bekerja secara sistemik dalam menampilkan sebuah tampilan… betul ya? (wah, kok nyeleneh begini tulisannya, sok atuh)
Kembali lagi pada Hitam dan Putih. Tidak bisa, tidak bisa disamaratakan memang, hitam harus hitam sesuai dengan karakter yang ia bawa, gelap. Putih harus putih, bersih. Tetapi bila ia berpadu, tak jarang membentuk suatu kesatuan yang apik. Mencahayai sang gelap dan menegaskan kecemerlangan sang putih. Ah, betapa indah.
Bila hatimu telah menghitam,biarlah aku putihkan. Bila aku yang terlanjur hitam, maka putihkanlah aku dengan kebersihan mata hatimu yang bersih, putih. Bila tidak bisa juga, maka mungkin itulah dead pixel, yang mengacaukan segalanya, antara kita. Dead pixel, suatu kejadian pada layar monitor atau LCD apabila ada kerusakan satu transistor saja yang menyebabkan matinya satu pixel. Ah, mengenai ini, saya tidak bisa banyak bicara, cukup menjadi pembaca setia, dan mengerti sendiri dalam hati, tanpa perlu merepotkan.
LCD Kehidupan, adalah tampilan yang bisa dinilai, bukan hanya saat ini, kelak dan kelak yang abadi.
Antum a’lamu bi umuri-ddunnya kum…
Hitam bisa saja menjadi Putih, atau sebaliknya, bila Allah menghendaki, atau jika kita berikhtiar sepenuhnya atas izin Allah, perlu dicamkan lagi, bila kita berikhtiar.
Sebesar apapun noda-noda yang kita cipratkan di atas tubuh dari ujung rambut ke ujung kuku kaki kita sendiri atau ke tubuh saudara kita yang memuat segalanya menjadi hitam kelam, luar biasa gelapnya, akan tetapi lebih dari itu Allah memutihkan semuanya, bila Ia menginginkan. Hanya dengan sekali ‘bilas’ bahkan tak sampai sekali menurut hitung-hitungan manusia.
Hitam dan putih, bukanlah keterbalikan kedua fakta. Keduanya hanya corak yang mewarnai kehidupan. Alangkah tak indahnya dunia jika segala warna adalah hitam atau putih saja, bak televisi zaman dahulu yang ‘mungkin’ untuk saat pertama dikenal, ia adalah suatu hal yang asyik, asyiknya menonton gambar bergerak, sebatas itu saja. Namun lama kelamaan ada suatu kebosanan dan keinginan untuk lebih baik lagi. Sehingga tampillah warna-warna seperti yang bisa kita saksikan di layer monitor atau LCD saat ini. Gambar berwarna itu adalah paduan dari tiga warna dasar saja, sesungguhnya. Mungkin ahli atau pakar IT bisa menjelaskannya. Kumpulan-kumpulan tiga warna itu membentuk pixel, ya, itu pixel yang diset oleh masing masing transistor, bekerja secara sistemik dalam menampilkan sebuah tampilan… betul ya? (wah, kok nyeleneh begini tulisannya, sok atuh)
Kembali lagi pada Hitam dan Putih. Tidak bisa, tidak bisa disamaratakan memang, hitam harus hitam sesuai dengan karakter yang ia bawa, gelap. Putih harus putih, bersih. Tetapi bila ia berpadu, tak jarang membentuk suatu kesatuan yang apik. Mencahayai sang gelap dan menegaskan kecemerlangan sang putih. Ah, betapa indah.
Bila hatimu telah menghitam,biarlah aku putihkan. Bila aku yang terlanjur hitam, maka putihkanlah aku dengan kebersihan mata hatimu yang bersih, putih. Bila tidak bisa juga, maka mungkin itulah dead pixel, yang mengacaukan segalanya, antara kita. Dead pixel, suatu kejadian pada layar monitor atau LCD apabila ada kerusakan satu transistor saja yang menyebabkan matinya satu pixel. Ah, mengenai ini, saya tidak bisa banyak bicara, cukup menjadi pembaca setia, dan mengerti sendiri dalam hati, tanpa perlu merepotkan.
LCD Kehidupan, adalah tampilan yang bisa dinilai, bukan hanya saat ini, kelak dan kelak yang abadi.
Antum a’lamu bi umuri-ddunnya kum…
(Ditulis dari sebuah Kamar Hotel di Kota Jambi...)
SELENGKAPNYA BACA......
KATEGORI
Pikiran-Pikiran JHD
Selamat Datang Ramadhan
Tidak ada kata atau kalimat yang sangat puitis, melainkan sepotong ucapan, Selamat Datang Kembali aduhai Ramadhan. InsyaAllah, kita akan segera bertemu Ramadhan...
Ya Allah, sucikan aku dari dosa-dosa yang telah melumuri tangan, wajah, kaki, dan seluruh tubuhku. Aku ingin bertaubat kepada-Mu ya Allah. Aku takut dengan adzab-Mu. Jadikan aku menjadi suci di dalam Ramadhan tahun ini, berilah kesempatan pada-Ku, hanya untuk dekat kembali kepada-Mu. Amin...
Ada pelajaran yang saya dapat tangkap dari pertemuan dengan Murabbi beberapa bulan yang lalu, tepatnya di Masjid depan SMP/SD Adzkia Taratak Paneh. Pembahasan Fiqh Prioritas. Ternyata hak Allah tidak lebih dahulu daripada hak hamba-Nya, maksudnya, hak manusia harus diutamakan daripada hak Allah. Urusan muamalah, atau juga termasuk semisal kesalahan dengan sesama manusia, rupanya itu lebih diutamakan dulu diperbaiki daripada sekedar memohon ampun terus menerus kepada Allah atas setiap dosa-dosa langsung kita terhadap Allah. Wah, jangan-jangan ada hak saudara kita yang kita tidak tunaikan, sementara kita adalah orang yang rajin shalat, bahkan shalat tahajud 'sesekali', apalagi kalau kita adalah pemalas atau gak pernah tahajud. Ah, bertumpuklah kesalahan-kesalahan kita di hadapan-Nya…
Ya Rabb. Ampuni kami. Hamba-Mu ini lemah.
SELENGKAPNYA BACA......
Ya Allah, sucikan aku dari dosa-dosa yang telah melumuri tangan, wajah, kaki, dan seluruh tubuhku. Aku ingin bertaubat kepada-Mu ya Allah. Aku takut dengan adzab-Mu. Jadikan aku menjadi suci di dalam Ramadhan tahun ini, berilah kesempatan pada-Ku, hanya untuk dekat kembali kepada-Mu. Amin...
Ada pelajaran yang saya dapat tangkap dari pertemuan dengan Murabbi beberapa bulan yang lalu, tepatnya di Masjid depan SMP/SD Adzkia Taratak Paneh. Pembahasan Fiqh Prioritas. Ternyata hak Allah tidak lebih dahulu daripada hak hamba-Nya, maksudnya, hak manusia harus diutamakan daripada hak Allah. Urusan muamalah, atau juga termasuk semisal kesalahan dengan sesama manusia, rupanya itu lebih diutamakan dulu diperbaiki daripada sekedar memohon ampun terus menerus kepada Allah atas setiap dosa-dosa langsung kita terhadap Allah. Wah, jangan-jangan ada hak saudara kita yang kita tidak tunaikan, sementara kita adalah orang yang rajin shalat, bahkan shalat tahajud 'sesekali', apalagi kalau kita adalah pemalas atau gak pernah tahajud. Ah, bertumpuklah kesalahan-kesalahan kita di hadapan-Nya…
Ya Rabb. Ampuni kami. Hamba-Mu ini lemah.
Langgan:
Entri (Atom)

